Sekolah Hijau


I.PENDAHULUAN

A. Isu Global

Disadari atau tidak, ternyata suhu planet yang kita huni ini kian lama semakin panas.
Jika kita ingin tahu lebih jauh kenapa peningkatan temperatur itu terjadi ,agaknya akan menggiring kita semua kepada suatu ambang pemikiran dan pembicaraan yang demikian kompleks sehingga tidak cukup untuk dibahas secara lokal maupun regional dan nasional dengan mengupas aneka macam teori dan argumen ,tetapi sudah memerlukan penanganan global. Walau informasi pemanasan bumi hampir rutin dilansir media elektronik dan cetak namun tampaknya belum begitu mangkus untuk memberikan pemahaman yang memadai bagi masyarakat luas.
Hubungan timbal balik antara pemanasan global dengan perusakan hutan yang seharus-nya berfungsi sebagai paru-paru dunia mungkin sudah banyak diketahui orang, namun kenyatanya luas area hutan hampir di setiap negara teramasuk di Indonesia terus menyusut dari waktu ke waktu.saban Bahkan .konon negara kita termasuk yang mengalami kerusakan hutan paling parah.Karena itu sudah sepatutnya kita risau, akan datangnya malapetaka yang mengerikan pada suatu saat nanti.

Sementara negara maju dan wilayah perkotaan di negara berkembang tidak kalah gesit memacu pemanasan global dengan menyumbangkan emisi gas karbon yang tidak tangung-tangung jumlahnya setiap hari sehingga menimbulkan efek rumah kaca. Anehnya pada yang sama negara-negara maju dengan enteng berkelit melempar kesalahan kepada negara berkembang, dengan menyebutnya sebagai suatu kebodohan karena membiarkan rakyat membabat hutan dan mentolerir ilegal loging . ( ? )

Dampak lebih jauh dari akumulasi isu global tersebut,yang pasti lubang ozon di kutub diameternya sudah semakin lebar dan terus bertambah sebagai mana diungkapkan pakar-pakar lingkungan hidup sejak beberapa dekade belakangan sampai yang terakhir diangkat sebagai tema utama Konfrensi Perubahan Iklim Dunia di Bali di Bali tahun kemarin. Andaikan pemanasan global sebagai memang memang sebagai suatu proses bencana kehidupan dan peradaban umat manusia yang pada saatnya akan mengantar alam semesta kepada kehancuran total sebagaimana kita pahami dari ayat- ayat dalam Al Qur’anul Karim, namun setidaknya kita punya kewajiban untuk berikhtiar menyelamatkan lingkungan sebagai antisipasi untuk memperlambat laju peningkatan suhu bumi ini. Upaya yang harus segera kita mulai antara lain salah satunya melalui proses pendidikan bagi generasi penerus.
Agaknya sangat tepatlah kita duduk bersama membahas isu global tersebut pada Pertemuan Ilmiah Tahunan -Ikatan Geograf Indonesia hari ini.

B.Permasalahan Krusial

Sehubungan dengan sub tema Menuju Sekolah Hijau ( Go Green School ) dalam upaya antisipasi pemanasan global , sesuai dengan ketentuan tentang otonomi penyelenggaraan pemerintahan dewasa ini agaknya perlu kami ungkapkan permasalahan yang dihadapi Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Dikpora) provinsi Sumatera Barat ,antara lain adalah ;
1. Sekolah-sekolah sebagai sasaran utama pembahasan ini ,secara de yure dan de facto adalah kewenangan otonomi kabupaten/ kota sementara Dinas Dikpora provinsi Sumatera Barat hanya memiliki kewenangan yang sangat terbatas untuk hal-hal tertentu saja.
2. Dinas Dikpora provinsi Sumatera Barat sama sekali tidak memiliki sekolah dan juga tidak diperbolehkan melakukan pembinaan langsung ke sekolah tampa persejuan kabupaten/kota.
3. Sebagian besar sekolah hanya memiliki lahan pekarangan yang amat terbatas dan sempit sehingga sulit menyisihkan spasi ruang hijau. Bahkan lebih ironis lagi karena ada sebagian diantaranya yang telah hampir seluruh pekarangan dengan beton.
4. Persepsi dan pemahaman sekolah terhadap keasrian lingkungan amat bervariasi sehingga sulit untuk memotivasi ,dan memilih strategi /pendekatan pembinaan yang tepat
5. Pergantian pimpinan sekolah dalam waktu relatif pendek, kurang kondusif untuk pelestarian penghijauan pekarangan sekolah karena adanya perbedaan sudut pandang antar pimpinan.
6. Belum tumbuhnya kesadaran masyarakat untuk ikut serta memelihara kerindangan sekolah
sehingga adakalanya pekarangan sekolah digunakan sebagai lahan penggembalaan ternak.

B. Harapan ke Depan

Sekalipun masih banyak permasalahan yang menghadang , Menuju Sekolah Hijau di Sumatera Barat namun sebagai orang yang peduli lingkungan kita berharapkan ke depan ;
1. Adanya kepedulian bersama untuk mendorong sekolah-sekolah dimanapun juga untuk menyediakan spasi hijau sehingga lingkungannya terasa sejuk ,tenang dan menyenangkan.
2. Jumlah sekolah yang rindang dan hijau terus bertambah dari tahun ke tahun
3.Adanya perhatian pemerintah kabupaten/kota untuk menyediakan lahan yang relatif luas untuk pembangunan unit sekolah baru sesuai dengan standar sarana /prasarana pendidikan..
4. Penataan lingkungan sekolah secara terencana dan berkesinambungan dijadikan sebagai salah satu kriteria keberhasilan kepala sekolah dalam mengelola pendidikan di kabupaten /
kota sebagaimana telah diatur berdasarkan Permendiknas No.44 tahun 2007 tentang Sarana /Prasarana Sekolah.
5. Makin meningkatnya pembinaan sikap sadar lingkungan terhadap para siswa,sehingga kelak mereka akan menjadi orang-orang yang berperan aktif memelihara kelestarian alam.
6. Sekolah hijau tidak hanya dipersepsikan sebagai lingkungan sekolah yang dihijaukan dengan tanaman dan tumbuhan semata, melainkan juga termasuk meminimalisir pencemaran pembakaran sampah,dan menghemat pemakaian listrik dari PLN

II. POSISI SEKOLAH DI ERA OTONOMI DAERAH

A.Sekolah adalah Kewenangan Kabupaten/Kota

Sejak berlaku efektifnya Undang-undang No.22 Tahun 1999 tentang Otonomi Daerah maka setiap kabupaten/ kota telah menyelenggarakan otonomi pemerintah secara nyata,dinamis dan bertanggung jawab sesuai dengan kewenangannya. Salahsatu urusan wajib yang menjadi wewenang dan tanggung jawab kabupaten / kota adalah penyelenggaraan pendidikan formal pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Dengan demikian segala sesuatu yang berkaitan dengan sumber daya aparatur, sarana/prasarana sekolah, dan pendanaan pendidikan menjadi wewenang dan tanggung jawab pemerintah kabupaten / kota.
Sejalan dengan itu kebijakan pembangunan pendidikan segala konsekuensinya melekat kepada kewenangan otonom kabupaten / kota. Konsekuensinya penataan lingkungan sekolah, termasuk penghijauan halaman pekarangan diselenggarakan sesuai dengan arah kebijakan umum kabupaten / kota bersangkutan.

B. Manajemen Peningkatan Mutu Pendidikan Berbasis Sekolah

Sejalan dengan otonomi penyelenggaraan pemerintahan untuk hal-hal teknis operasional, sekolah memiliki otonomi pengelolaan pendidikan dalam lingkup mikro pada tingkat satuan pendidikan bersangkutan. Kepala sekolah dituntut agar berkemampuan mengimplementasikan manajemen peningkatan mutu pendidikan berbasis kepada potensi dari sekolah itu sendir Sesuai dengan Peraturan Pemerintah No.19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan disebutkan bahwa setiap satuan pendidikan wajib memiliki dokumen Rencana Pengembangan Jangka Menengah ( RPJM ) yang memuat ; Visi dan Misi sekolah, serta tahapan program untuk mencapainya yang dijabarkan ke dalam Rencana Pembangunan tahunan Sekolah ( RPS). Oleh sebab itu keberhasilan suatu sekolah akan saling terkait dengan kiat kepala sekolah untuk menggerakkan segala sumber daya sekolah secara sinergis sesuai dengan kemampuan manajemen yang melekat pada dirinya. Keberhasilan dimaksud,tentunya juga termasuk dianta-ranya perindangan pekarangan dengan taman maupun tanam-tanaman yang bermanfaat.

C. Mewujudkan Lingkungan Sekolah yang Asri, Bersih, Nyaman,Sehat dan Ramah

Sekolah yang nyaman, asri dan ramah ( Wellcoming school ) sebenarnya sudah lama menjadi idaman . Akan tetapi perjalanan panjang menuju kearah ini baru mudah untuk disebut dan ternyata sulit mengaktualisasikannya. Mungkin karena begitu banyak aspek yang harus dipenuhi maka perwujudannya masih sebatas impian.Hingga saat ini masih amat jarang kita menjumpai suatu lingkungan sekolah,apakah SD, SMP, SMA maupun SMK yang memiliki pekarangan lebih dari 30.000 meter persegi,sehingga memungkinkan tersedia lapangan olah raga yang mencukupi, ruang bermain yang memadai, di bawah tumbuhan yang teduh dan rindang sertai pemandangan yang hijau disekeling sekolah. Andaikan hal itu tersedia pada suatu sekolah,maka warga sekolah ( siswa ,guru dan pegawai ) akan merasakan kenyamanan sehingga memberikan suatu ketenangan serta kesejukan hati.
Kemudian,tentu akan memberikan nilai tambah lebih besar apabila para guru, pegawai sekolah bersama seluruh siswa senantiasa memupuk kebiasaan sikap saling akrab,penuh persahaabatan, dan ramah antar sesama.
C. Sekolah Proaktif Mengapresiasi dan Mengiprovisasi Lingkungan Hijau

Perjalanan panjang menuju sekolah hijau secara ideal berkemungkinan membutuhkan waktu relatif panjang ,sehingga butuh kepeloporan dan perencanaan matang serta kesinambungan upaya kerja keras segenap warga sekolah. Langkah awal kearah ini ,agaknya perlu dibangunan rasa kepedulian warga sekolah bersama masyarakat untuk menyelamatkan lingkungan sekolah dalam lingkup mikro kemudian ditingkatkan ke luar pekarangan sekitar area pengaruh sekolah . Melalui sosialisasi yang efektif terhadap guru,siswa dan orang tuanya akan memberikan dampak terhadap masyarakat sekitar. Dengan melibatkan warga sekolah membenahi lingkungan sekolah sejak awal , maka masyarakat akan merasakan lingkungan sebagai bagian dari mereka ,bahkan tumbuh rasa memiliki dan rasa tanggung jawab yang tinggi. Keasrian dan kenyamanan lingkungan sekolah yang semakin kondusif dari tahun ke tahun berpeluang meningkatkan semangat warga sekolah untuk berpartisipai . Lingkungan sekolah hijau jika diterjemahkan secara luas dan komprehensif ,sebenarnya tidak berhenti sebatas tercapainya lingkungan sekolah yangtertata rapi dengan taman dan tanaman hijau semata. Akan tetapi makna sekolah hijau juga mencakup ;minimalisasi pembakaran sampah yang menimbulkan pulusi di pekarangan dan lingkungan sekolah, pengurangan ketergantuangan penggunaan arus listrik dari PLN, serta pemanfaatan sampah organik jadi kompos yang dapat dimanfaatkan untuk kesuburan tumbuhan di sekitar sekolah.
Pada beberapa sekolah di luar Sumatera Barat telah mulai berkembang pembudidayaan jamur sebagai makanan sehat dengan memakai pupuk organik hasil olahan sampah sendiri.
Jika hal seperti ini dapat dikembangkan oleh sekolah dengan kreatifitas masing-masing ,maka amat banyak sebenarnya nilai tambah yang bakal diperoleh,disamping antisipasi pemanasan global sebagai target utamanya. Upaya mengurangi ketergantungan kepada sumber listrik dari PLN dapat dilakukan oleh sekolah dengan memanfaatkan solar system ( energi matahari ). Hal ini setidaknya akan mendatangkan keuntungan ganda yakni mengurangi biaya pengeluaran sekolah, dan secara tak langsung berpotensi mengurangi emisi karbon yang dihasilkan oleh PLTU.
Disamping itu,warga sekolah juga dapat belajar dan mengikuti hal serupa untuk kebutuhan rumah tangga mereka . Dengan kemandirian dan otonomi sekolah untuk menyusun kurikulum tingkat satuan
pendidikan ( KTSP ) konsep sekolah hijau ,mungkin bukanlah suatu hal yang muluk dan sulit dicapai. Akan tetapi sekali lagi dibutuhkan kemauan dan usaha keras untuk mencapainya, karena prinsip dasar manajemen berbasis sekolah adalah mendorong setiap sekolah agar
mandiri dan otonom dalam menentukan nilai tambah konpetitif yang ingin dicapainya.

III. UPAYA DINAS PENDIDIKAN ,PEMUDA DAN OLAHRAGA
PROVINSI SUMATERA BARAT

A. Memprogramkan Pembinaan dan Lomba Sekolah Sehat

Program pembinaan sekolah sehat sudah mulai dilakukan sejak akhir tahun 1960-an dengan kegiatan utamanya Usaha Kesehatan Sekolah. Sasaran Usaha Kesehatan Sekolah ( U K S ) adalah siswa pada jenjang pendidikan dasar dan menengah ( TK/RA.SD/MI, SMP/ MTs,SMA/SMK/MA ). Sedangkan ruang lingkupnya atau alebih populer dengan istilah TRIAS- UKS meliputi ;
1. Penyelenggaraan pendidikan kesehatan kepada peserta didik.
2. Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan .
3. Pembinaan Lingkungan Kehidupan Sekolah Sehat.

Pembinaan sekolah sehat diselenggarakan terpadu oleh 4 menteri yaitu (1) Menteri Pendidikan Nasional,( 2) Menteri Kesehatan , ( 3 ) Menteri Agama dan (4 ) Menteri Dalam Negeri .Kerjasama untuk pembinaan secara terpadu dilaksanakan pada setiap tingkat pemerin-tahan dan lembaga yakni di tingkat nasional,tingkat propinsi, tingkat kabupaten /kota ,tingkat kecamatan. Penetapan Tim Pembina di tingkat pusat ditetapkan Keputusan Bersama 4 Menteri,di tingkat Propinsi oleh Gubernur,di tingkat kabupaten/kota oleh Bupati /Wali Kota dan di tingkat kecamatan oleh camat setempat.
Untuk memotivasi kebersinambungan sekolah sehat , setiap tahun diselenggarakan kegiatan lomba sekolah sehat mulai dari level terbawah sampai ke tingkat nasional. Penilaian dilakukan secara berjenjang oleh aparat dari 4 unsur departemen dengan meninjau langsung setiap sekolah peserta lomba menggunakan instrumen yang cakupannya meliputi semua aspek Trias UKS . Setiap sekolah yang berhasil meraih peringkat terbaik di provinsi berhak mengikuti lomba UKS tingkat nasional. Setiap tahun akan diikutkan peserta lomba utusan TK/RA , SD/MI , SMP/MTs dan SMA/SMK/MA mewakili provinsi di ajang lomba UKS tingkat nasional. Berdasarkan pengalaman beberapa dekade terakhir ,utusan Sumatera Barat hampir tiap tahun berhasil meraih peringkat 3 sampai 5 secara berimbang uktuk setiap jenjang pendidikan.
Tampaknya pembinaan UKS di daerah ini sudah relatif baik dibandingkan sejumlah provinsi lain di luar pulau Jawa.

B. Capaian Tingkat Partisipasi SatuanPendidikan dalam UKS

Capaian tingkat partisipasi sekolah dalam penyelenggaraan program UKS sampai tahun 2007 di Sumatera Barat sesungguhnya masih belum menggembirakan, karena baru sebagian kecil yang secara sungguh-sungguh telah berusaha menjadikan sekolah sebagai lingkungan pendidikan yang sehat. Rendahnya tingkat partisipasi ,berkemungkinan disebabkan banyak hal seperti keterbatasan lahan pekarangan, kekurangan tenaga kependidikan, minimnya sumber dana dan juga kemungkinan karena masih rendahnya dukungan masyarakat terhadap program pembangunan pendidikan termasuk pembinaan UKS.
Bagaimanapun juga untuk menggerakkan program UKS di sekolah,jelas membutuhkan dana cukup banyak,semantara pada saat bersamaan sekolah dihadapkan dengan berbagai kegiatan proses belajar mengajar guna mengejar mutu pendidikan sebagaimana diharapkan orang tua siswa sehingga sekolah cendrung lebih memilih kegiatan akademik
Sebagai gambaran umum,berikut ini kami tampilkan data capaian pembinaan UKS di Sumatera Barat sampai tahun 2007.

Data Partisipasi Sekolah dalam Pembinaan UKS di Sumatera Barat
Tahun 2007

No Jenjang Sekolah Jumlah Sekolah Peserta UKS
Sekolah Pesentase
1 Sekolah Dasar       4.007 538 13,42
2 Mdr. Ibtidaiyah          118 32 27,11
3 S M P                             493 109 22,15
4 Mdr.Tsanawiyah        362 92 25,41
5 S M A                               229 66 28,82
6 S M K                                160 34 21,12
7 Mdr.Aliyah                   157 26 16,56
Jumlah                        5.526 897 16,23

Sumber : Data Sekretariat Tim Pembina UKS provinsi Sumatera Barat 2007

Data ini menunjukkan bahwa tingkatpartisipasi tertinggi adalah pada SMA yang disusul kemudian oleh MTs dan SMP. Sementara tingkat partisipasi yang masih rendah tampatnya di SD dan MA. Masih rendahnya tingkat partisipasi UKS di SD lebih dominan disebabkan oleh keterbatasan daya jangkau tim pembina terhadap 4007 sekolah yang tersebar dan terpencar di seluruh Sumatera Barat. Sedangkan untuk tingkat M.A kemungkinan karena lebih dari 75 % diantaranya adalah perguruan swasta dengan segala keterbatasan lahan maupun sumber daya untuk pengelolaannya.

C.Perindangan dan Pertamanan Sekolah

Perindangan dan pertamanan sekolah sebagai salah satu komponen UKS,cukup membe-rikan andil untuk mendapatkan peringkat terbaik pada setiap level wilayah administerasi peme-rintahan. Sekolah yang tidak memiliki taman,kebun ,dan pohon pelindung tidak akan pernah memperoleh posisi teratas dalam penilaian. Untuk mempersiapkan perindangan dan taman sekolah yang asri dan hijau tidak mungkin dilakukan secara mendadak ,tetapi membutuhkan waktu dan persiapan dan pemeliharaan beberapa tahun secara kontinu.
Dari hasil pemantauan ke lapangan pada saat penilaian UKS oleh Tim Provinsi Sumatera Barat diperoleh informasi bahwa sebahagian besar sekolah yang sudah memiliki perindangan berada di daerah kabupaten dan hanya beberapa diantaranya di perkotaan. Sedangkan jika dilihat dari jenjang pendidikan,tampaknya pekarangan sekolah yang hijau lebih dominan diperlihatkan oleh SMP , SMA,dan SMK. Hal ini agaknya cukup beralasan karena sejak tahun 1970-an telah diprasyaratkan luas lahan yang mencukupi untuk setiap lokasi pem-bangunan unit gedung sekolah baru,sehingga memungkinkan tersedia lahan kosong untuk ruang hijau di pekarangan sekolah.

Agar perindangan dan taman sekolah tetap terawat,semua warga sekolah diberdayakan sedemikian rupa dengan penuh rasa tanggung jawab. Pembinaan sikap kebisaan hidup sehat dan bersih disertai sikap mental memelihara dikalangan siswa bukanlah suatu hal mudah.
Akan tetapi apabila sekolah berhasil mewujudkannya ,maka lingkungan sekolah akan memberi nuansa ketenangan dan kenyamanan yang sulit diperoleh di tempat lain. Hembusan udaya yang nyaman,sehat dan sejuk berembus ke setiap ruang belajar akan menambah betahnya siswa belajar. Dan yang paling menguntungkan lagi, sekolah seperti ini telah berbuat tindakan positif untuk mengantisipasi pemanasan global.

D. Memotivasi Pemanfaatan Kebun Sekolah sebagai Salah Satu Sumber Belajar

Kebun dan taman serta semua tumbuhan perindang yang aada di pekarangan sekolah sesungguhnya merupakan suatu laboratorium alam yang kaya informasi ilmu pengetahuan . Maka sesuai dengan tuntutan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ( KTSP ) yang sedang populer saat ini ,menempatkan taman dan kebun sekolah sebagai salah satu sumber belajar langsung yang dapat dimanfaatkan siswa bersama guru untuk mendalami ilmu pengetahuan. Setidaknya dengan memanfaatakan kebun ,taman dan tanaman perindang yang ada, para siswa akan lebih banyak memperoleh ilmu pengetahuan tentang pembudidayaan tum-buhan ,termasuk pemeliharaan dan bahkan ikut memetik hasilnya. Proses pembelajaran aktif semacam ini akan memberikan residu pengalaman dan pengetahuan yang sulit terlupakan. Namun sayangnya belum banyak guru yang memanfaatkannya sehingga proses pembelajaran lebih dominan berlangsung di ruang kelas, sehingga menimbulkan kejenuhan dan kebosanan.
Efektifitas pemanfaatan kebun,taman dan tumbuhan disekitar sekolah sebagai salah satu sumber belajar, untuk saat tertentu mungkin memerlukan bantuan nara sumber dari luar lingkungan warga sekolah seperti praktisi pertanian , mantri pertanian dan pencinta tanaman hias atau bunga-bungaan .

E. Kebun Sekolah Berpotensi Menunjang Sumber Biaya Sekolah

Pada beberapa sekolah tertentu yang memiliki lahan cukup luas seperti di kabupaten Pasaman Barat , dan Dharmasraya lahan pekarang sekolah sebagian ditanami dengan tanaman komoditi konvensonal seperti sawit, coklat dan kadang –kadang berkebun jagung. Akan tetapi mungkin belum ada sekolah yang mengembangkan inovasi baru semisal rumah jamur, pembu-di dayaan dan penyilangan tanaman hias,kebun koleksi tanaman langka dan sebagainya. Selain itu, kebun sekolah dapat difungsikan sebagai wahana pelatihan kecakapan hidup bagi siswa sebagai implementasi dari penerapan kurikulum berbasis kompetensi yang dirancang dan dimasukkan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ( KTSP ).

Berdasarkan pengalaman pada beberapa sekolah , tampaknya setelah beberapa tahun kemudian hasil panen sawit yang ditanam berjejer sebagai batas pekaranganpun sudah cukup memberikan kontribusi untuk menambah kas sekolah. Belum lagi dari hasil tanaman coklat setelah berusia 3 tahun akan rutin dipanen setiap minggu. Sayangnya peluang ini belum banyak dimanfaatkan oleh sekolah sebagai satuan pendidikan yang seharusnya memiliki kemandirian untuk menentukan arah pengembangan keterampilan vokasional bagi siswanya . Tentunya pemeliharaan kebun sekolah seperti ini tidak mungkin dilakukan oleh siswa tetapi memerlukan tenaga khusus yang sering dipercayakan sebagai tugas tambahan bagi penja-ga sekolah. Dengan memberikan persentase terrtentu kepadanya sebagai imbalan,maka pihak sekolah dan penjaga sekolah sama-sama memperoleh manfaat finansial.

IV. P E N UT U P

A. Kesimpulan

1. Langkah awal Menuju Sekolah Hijau sebagai antisipasi pemanasan global sudah dirintis
melalui program pembinaan UsahaKesehatan Sekolah ( UKS ) di setiap Kabupaten/ kota.
2. Sampai tahun 2007 tingkat capaian /jangkauan pembinaan UKS baru rata-rata sebesar 16,23 persen dengan capai persenatese tertinggi pada SMA dan yang terendah di SD.
3. Masih dibutuhkan waktu cukup panjang untuk mewujudkan sekolah hijau yang merata disamping dukungan dana yang cukup besar.
4. Dilihat dari segi manfaat dan dampak lingkungan hijau di sekeliling sekolah terhadap
kenyamanan siswa belajar ,maka sepantasnya program ini didukung bersama /digalakan, sebawai wujud kepedulian warga sekolah mengantisipasi pemanasan global.
5. Setiap satuan pendidikan memiliki potensi untuk menata lingkungannya menuju sekolah hijau asalkan ada kemauan ke arah itu.

B. Saran-saran

1. Diharapkan dari pertemuan ini dapat dirumuskan butir-butir rekomendasi untuk bahan
masukan bagi pengambilan kebijakan baik di tingkat lokal maupun nasional.
2. Kiranya pengurus Ikatan Geograf Indonesia pusat menginformasikan program IGI kepada Tim Pembina UKS pusat agar terjalin kerjasama saling menguntung kedua belah pihak
3. Jika memungkinkan IGI Pusat ikut memantau sekolah-sekolah penyelenggara UKS ataupun sekolah yang telah memiliki perindangan cukup baik guna mendapatkan referensi otentik untuk pengembangan kegiatan ilmiah di bidang geografi /lingkungan ke depan.

Demikian beberapa pokok pikiran yang perlu saya disampaikan dalam kesempatan ini. Terimakasih atas perhatian seluruh peserta pertemuan ini,dan mudah-mudahan melalui kerjasama seperti ini akan ada manfaatnya di kemuadian hari.
Mohon maaf atas segala kekurangan dan kejanggalan dalam penulisan maupun penyampaian kami.

Padang, 22 Nopermber 2008

Kepala Dinas Pendidikan,Pemuda dan Olahraga
Provinsi Sumatera Barat

Drs.H.Burhasman, MM
NIP.131 413 758

Sumber: http://cuchuz.blogspot.com/2009/12/sekolah-hijau.html#comment-form

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: